Pelaku Begal Remaja, Salah Siapakah?

//Pelaku Begal Remaja, Salah Siapakah?

Pelaku Begal Remaja, Salah Siapakah?

2015-03-11T10:47:30+00:00 11-Maret, 2015|Categories: Artikel|Tags: , , , |

Sobat remaja, tahukah kamu belakangan ini sering terjadi aksi begal? Terlebih lagi, banyak di antaranya yang dilakukan oleh remaja? Nah, mari kita bahas bersama mengenai salah satu aksi yang sedang ditakuti banyak orang ini.

Beberapa ahli berpendapat bahwa begal motor yang dilakukan oleh remaja seringkali bukan merupakan tuntutan ekonomi semata, namun juga merupakan bentuk eksistensi diri dan menjaga kekompakan di komunitasnya. Menurut Ketua Pusat Layanan Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Zahrotun Nihayah, yang dikutip dari halaman republika.co.id, “Banyak dari mereka (remaja) yang melakukan pembegalan, tidak termotivasi oleh desakan ekonomi. Mereka hanya ikut-ikutan atau membantu temannya dalam melakukan aksi begal. Dengan begitu, eksistensi mereka tetap terjaga dalam pergaulan.”

41195_highres

Lalu, siapa yang patut dipersalahkan dalam kasus ini? Tidak bijak bila semua kesalahan dilimpahkan pada remaja yang tidak hanya menjadi pelaku namun juga dapat disebut sebagai korban. Remaja merupakan masa-masa dimana seseorang mencari jati dirinya dan akan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Peran orang tua, pemerintah dan guru di sekolah sangat diharapkan untuk mengarahkan para remaja ke aktivitas yang lebih positif dan tidak merugikan orang lain.

Tiga Cara Mencegah Begal oleh Remaja

Dikutip dari Tempo.co, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan tiga cara untuk mencegah terjadinya begal yang dilakukan oleh remaja. Yang pertama, perlu adanya pemberdayaan keluarga yang tidak hanya dari segi ekonomi tapi juga perspektif perlindungan anak. Rekomendasi kedua, perlunya pemerintah pusat maupun daerah memastikan tidak adanya bibit-bibit kekerasan di sekolah. Hal ini dikarenakan hampir setiap hari KPAI menerima laporan mengenai kekerasan pada anak di sekolah. Ketiga, KPAI menyarankan pemerintah daerah dapat memastikan bahwa seluruh tenaga pendidik dan kependidikan memiliki perspektif perlindungan anak sebagai dasar dalam membangun budaya pembelajaran yang ramah anak.

Luh Pitriyanti – (KISARA PKBI Bali)

 
Sumber:
republika.co.id
tempo.co
depoklik.com
sindonews.com