5 Hal yang Bikin Males ke Klinik yang Tidak Ramah Remaja

/, Blog/5 Hal yang Bikin Males ke Klinik yang Tidak Ramah Remaja

5 Hal yang Bikin Males ke Klinik yang Tidak Ramah Remaja

Kamu sudah pernah cek ke klinik belum? Eh, jangan takut. Kalau belum juga nggak apa-apa kok. Faktanya kebanyakan klinik kesehatan reproduksi dan seksual di Indonesia memang masih belum ramah remaja. Makanya, teman-teman dan kenalan Sobat ASK sering mengeluh kalau mereka mendapat pengalaman buruk seperti…

 

“Kamu ‘nona’ atau ‘nyonya’?”

Biasanya ini pertanyaan yang paling bikin baper dan sialnya paling sering dialami oleh teman-teman kami. Kalau kamu bilang kamu masih ‘nona’ dan belum menikah, pasti kamu bakal diperhatikan dengan tatapan mata curiga atau malah tidak mau dilayani sama sekali.

Padahal, nggak ada salahnya kan memeriksa kesehatan sendiri dan mencari tahu lebih lanjut soal tubuhmu sendiri? Kamu nggak harus nunggu menikah untuk belajar soal itu. Walaupun kamu masih ‘nona’, kamu harusnya tidak boleh ditolak dan dibuat tidak nyaman seperti itu.

 

“Masih perawan, kan?”

Waduh. Emangnya itu urusan dia, ya? Pertanyaan ini memang kadang ada maksudnya. Kalau kamu mau cek papsmear (tes yang dilakukan untuk tahu apakah kamu berisiko kena kanker serviks atau tidak) memang si dokter harus memasukkan alat tes ke dalam vagina kamu untuk mengambil sel yang akan diuji. Makanya kadang kamu ditanya masih perawan atau tidak, karena dia takut selaput dara kamu akan robek saat pengambilan sel tersebut.

Tapi, kalau kamu cari tahu lebih jauh, alasan ini sebenarnya kurang masuk akal. Ada banyak metode pengambilan sel dengan alat-alat yang lebih halus dan kalau teknik pengambilan selnya benar, selaput dara kamu nggak akan pecah.

Asal tahu saja, walaupun perempuan yang belum berhubungan seks dianggap berisiko rendah terkena kanker serviks, risiko itu tetap masih ada. Lagipula kanker serviks tak hanya muncul karena hubungan seks. Faktor lain seperti lingkungan dan keturunan juga berpengaruh. Jadi, mau perawan atau tidak perawan, tes ini tetap penting buat kamu.

 

“Orangtuanya mana?”

Layanan yang ramah remaja itu harus menjamin privasi atau kerahasiaan, bahkan dari orang tua remaja tersebut sekalipun. Bukan karena kamu mau menyembunyikan sesuatu dari orang tua, dan itu juga bukan tanda kamu tidak sayang orang tua. Namun, mungkin kamu lebih nyaman bicara pada konselor profesional dulu, mencari tahu lebih lanjut, termasuk minta tips soal bagaimana bicara ke orang tua. Misalnya, kamu terkena HIV, ingin mengungkapkan orientasi seksualmu, atau sekadar ingin tahu soal seksualitas, tidak semuanya harus diketahui orangtua di saat itu juga, kan?

Kalau kamu suka sama seseorang dan bingung cara nembak dia, kamu mungkin akan curhat pada sahabatmu dulu sebelum bilang ke orangtuamu. Logikanya dan prinsipnya sama.

 

“Wah, sudah tutup, dek…”

Kamu baru pulang sekolah, kamu sudah ganti baju, dan kamu siap-siap untuk ke klinik. Begitu tiba di sana, rupanya mereka tutup. Duh!

Bayangkan kalau ada klinik yang mengaku “ramah remaja”, tapi hanya buka setiap hari Rabu, dari jam 12 siang sampai 3 sore (pas waktu sekolah), misalnya. Percuma dong? Klinik yang ramah remaja harusnya buka dan menyediakan layanannya pada waktu-waktu yang ramah remaja pula.

 

“Biayanya segini…”

Mau konseling aja keluar juta-jutaan. Mau tes HIV aja dompet langsung kering-kerontang. Klinik ramah remaja harusnya juga ramah pada dompetnya remaja. Kalau layanannya terlalu mahal, cuma segelintir orang yang bisa mengakses kan.

Ketemu klinik yang kayak begini memang bikin males. Tapi, jangan khawatir karena #KamuTidakSendirian. Sobat ASK punya banyak mitra klinik yang ramah remaja, ramah di dompet, dan ramah di waktu. Mitra kami punya dokter dan konselor yang jagoan di bidangnya, terbiasa dan senang bekerja dengan anak muda, serta ramah dan terbuka banget untuk ngobrol bareng kamu.

Daripada kamu mengambil risiko dengan kesehatanmu sendiri gara-gara klinik yang menjengkelkan, mending kamu cari klinik ramah remaja di sekitarmu. Buka saja di Direktori Komunitas kami! 🙂

 

 


Sumber:

https://www.iywg.org/topics/youth-friendly-services
http://www.unfpa.org/resources/adolescent-sexual-and-reproductive-health

Sumber foto: pathfinder.org