3 Alasan Anak Muda HARUS Bisa Mengakses Kontrasepsi

/, Blog/3 Alasan Anak Muda HARUS Bisa Mengakses Kontrasepsi

3 Alasan Anak Muda HARUS Bisa Mengakses Kontrasepsi

2016-04-12T15:00:03+00:00 12-April, 2016|Categories: Artikel, Blog|Tags: , |

Walaupun sebenarnya kontrasepsi cukup mudah diakses oleh umum, masih banyak stigma dan mitos yang bikin anak muda kesulitan mengakses kontrasepsi. Bahkan, pada International Conference on Family Planning (ICFP) 2016 yang diselenggarakan di Bali pada Januari 2016 lalu, Surya Chandra selaku kepala BKKBN berujar bahwa BKKBN tidak mendukung penyediaan kontrasepsi bagi orang yang belum menikah.

Tapi, memangnya kenapa sih anak muda perlu mendapat akses pada kontrasepsi?

 

1. Karena Anak Muda Sudah, dan Akan Terus, Aktif Secara Seksual

Menurut laporan BKKBN, 46% anak muda berusia 15-19 tahun telah aktif secara seksual. Angka ini enggak akan turun hanya karena anak muda enggak boleh mengakses kontrasepsi dan informasi soal seksualitas. Selain perlu mendapat pendidikan dan konseling agar mereka dapat mengambil pilihan yang bijaksana, mereka juga perlu mendapat akses kepada kontrasepsi.

Logikanya begini, kita tahu bahwa hubungan seksual yang berisiko itu enggak baik. Kita juga tahu banyak anak muda telah melakukan hubungan seksual yang berisiko. Beri mereka pemahaman dan intervensi agar mereka tahu betul risiko tindakan mereka. Jauh lebih cakep, memang, kalau mereka bisa menghentikan perilaku tersebut sepenuhnya. Tapi kalau mereka memutuskan untuk tetap berhubungan seksual, seenggaknya mereka melakukannya secara aman.

 

2. Karena Anak Muda Sudah, dan Akan Terus, Mengakses Kontrasepsi

Tapi kontrasepsi seperti apa?

Menurut pengakuan Linda Noiya, aktivis muda asal Jayapura yang menjadi salah satu peserta Youth Camp yang kami selenggarakan 2015 lalu, anak muda di daerahnya yang sudah aktif secara seksual dan tak bisa mengakses kontrasepsi melakukan hal yang miris. Mereka mencuri kondom milik orang tua atau menggunakan plastik es lilin sebagai kondom dadakan. Yup, kamu tidak salah baca: PLASTIK ES LILIN.

Peserta lain dari Bali punya cerita yang sama mirisnya. Anak muda Bali yang sudah aktif secara seksual–tapi tidak bisa mengakses kontrasepsi–menggunakan berbagai obat antibiotik untuk mencegah infeksi menular seksual. Penyalahgunaan obat-obatan yang sama juga telah diteliti dan terjadi pada anak muda di Yogyakarta, Makassar, dan daerah-daerah lainnya.

Cerita seperti ini tidak sedikit. Anak muda yang telah aktif secara seksual, tapi tidak punya akses ke informasi dan layanan kesehatan, bersikap sembarangan dan malah membahayakan dirinya sendiri.

 

3. Karena Anak Muda yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) Masa Depannya Suram
Fakta seru: menurut data Badan Pusat Statistik pada 2014, sekitar 11,75% perempuan berusia 15-19 tahun di Indonesia sudah atau pernah menikah. Sementara itu, 80% perempuan yang menikah sebelum usia 20 tahun di Indonesia paling tinggi lulus SMP.

Ada beragam alasan kenapa pernikahan anak terus terjadi. Mulai dari hukum di Indonesia yang enggak melindungi anak, faktor ekonomi, dan faktor budaya. Namun, salah satu alasan utamanya? Anak muda yang sudah aktif secara seksual dinikahkan oleh orangtuanya demi menghindari zina atau rusaknya nama baik keluarga.

Sekilas ini terkesan masuk akal. Tapi tunggu dulu: anak muda ini rata-rata masih sekolah, enggak ngerti apa-apa soal seksualitas, baru coba-coba berhubungan seksual entah karena dorongan dari teman atau pacarnya, dan jelas enggak siap sama sekali untuk berkeluarga. Setelah ketahuan bahwa mereka menikah (dan bahkan hamil), mereka seringkali dikeluarkan dari sekolah.

Lengkap kan? Mereka udah enggak tahu apa-apa soal seksualitas, enggak siap berkeluarga, enggak punya latar belakang pendidikan yang cukup untuk dapat pekerjaan pula. Walhasil, keluarga mereka terperangkap dalam kemiskinan dan tidak punya prospek pekerjaan yang baik. Masa depan suram, deh.

 

Bayangin kalau dia punya akses kepada layanan kesehatan dan kontrasepsi yang bisa mencegah kehamilan atau minimal layanan Keluarga Berencana yang bisa mencegah hal serupa terjadi. Bakal berubah banyak, kan?

 

Eh, tunggu dulu.

Memang sih, kayaknya kontrasepsi itu berguna banget–dan emang berguna! Tapi, sekadar menyediakan kontrasepsi bagi anak muda enggak menyelesaikan masalah. Anak muda juga perlu mendapat informasi dan pendidikan yang memadai soal seksualitas, serta layanan kesehatan yang oke.

Nanti kita tulis soal itu, deh. Janji.

 

 

Sumber foto:

konbini.com