Lepas dari Belenggu Sunat Perempuan

//Lepas dari Belenggu Sunat Perempuan

Lepas dari Belenggu Sunat Perempuan

2020-11-25T04:54:50+00:00 25-November, 2020|Categories: Artikel|Tags: , , , |0 Comments

Praktik Female Genital Mutilation (FGM) hingga hari ini masih membelenggu perempuan. Mitos-mitosnya terus menggaung, sementara generasi muda menjadi korban. Lantas kita harus bagaimana nih Sob?

Dalam memperingati International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation pada 6 Februari lalu salah satu member MAMAMOO Solar mengunggah video melalui channel Youtube pribadinya solarsido. Dalam video yang berjudul “The most painful ritual for women … is the worst” Solar bercerita tentang penelitian yang sudah dia kumpulkan untuk mencari tahu tentang praktik sunat perempuan.

 

Solar sangat menyayangkan bahwa perempuan dipaksa menjalani FGM di usia yang masih sangat muda bahkan baru lahir. Apalagi FGM seringkali dilakukan tanpa anestesi dan alat medis yang memadai, sehingga menimbulkan rasa sakit dan pendarahan yang luar biasa. Praktik ini jelas-jelas membahayakan perempuan.

Kegelisahan Solar bukan tanpa sebab, ia mempelajari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa masih banyak Negara yang menjalankan praktik ini. “Menurut data 2018 dari UNICEF (Korea), di 30 negara, anak perempuan dan perempuan telah teridentifikasi bahwa ada lebih dari 2 miliar yang telah menjalani FGM,” tuturnya.

Apa yang menjadi kegelisahan Solar ini tentunya bukan hanya menjadi kegelisahan Fans MAMAMOO, tapi juga kita semua nih Sobat Remaja. Yuk mari Sobat Remaja lihat di sekeliling kita, apakah praktik ini masih ada hingga kini?

Sebuah baliho besar “Terima Khitan Perempuan” di kawasan Jakarta Timur begitu mencuri perhatian pengendara yang melintas. Tepat di seberang baliho tersebut terletak klinik penyedia layanan khitan. Khitan atau sunat laki-laki memang biasa dilakukan dalam kultur masyarakat Indonesia, bahkan dirayakan besar-besaran di tengah masyarakat. Sementara sunat perempuan dilakukan dalam kesunyian, kebanyakan saat bayi baru dilahirkan.

Gejolak kepo muncul, kok kenapa dibedakan? Kalau sunat laki-laki ada manfaat kesehatannya, bagaimana dengan sunat perempuan? Mengapa perempuan kok disunat? Bagian apa dari tubuh perempuan yang disunat? Dengan cara bagaimana?

 

Female Genital Mutilation (FGM) – mutilasi alat kelamin perempuan atau Female Genital Cutting – adalah perlukaan alat kelamin perempuan yaitu praktik kuno memotong, menggores, menusuk atau melukai alat kelamin perempuan. Praktik ini dilakukan di sub Sahara Afrika dan di Timur Tengah. Di Indonesia kita mengenalnya dengan khitan, sirkumsisi atau sunat perempuan, dengan prosedur yang beragam.

 

WHO merumuskan 4 tipe praktik FGM yaitu (1) pemotongan klitoris atau bagian klitoris perempuan; (2) pemotongan klitoris dan bagian dalam bibir kemaluan perempuan; (3) pemotongan klitoris, bibir luar dan bibir dalam kemaluan serta penjahitan hasil potongan tersebut; (4) pemotongan secara simbolis klitoris maupun bagian lain kemaluan perempuan (Perempuan Bergerak, 2013:6).

Di Indonesia praktik ini dilakukan dengan perlukaan alat genital perempuan, atau secara simbolik dengan menempelkan gunting yang dibalut handuk ke klitoris. Sekitar 60 juta perempuan atau separuh dari total perempuan di Indonesia diperkirakan telah menjalani sunat perempuan semasa bayi. Sunat perempuan dipraktikkan sejak dahulu kala di masyarakat kita oleh “penyunat” tradisional. Namun, 10-15 tahun terakhir praktik ini telah dilakukan oleh para petugas kesehatan dengan istilah “medikalisasi”. Sehingga yang tadinya praktik kultural jadi melembaga sebagai praktik medis (theconversation.com, 2017)

Cerita Remaja

Perluasan praktik sunat perempuan dari tradisi ke medikalisasi berpotensi kian menjauhkan pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) perempuan. Bahkan praktik ini dilanggengkan, karena beralasan kultural dan medis. Padahal WHO menjelaskan bahwa praktik sunat perempuan sangat berisiko dan dapat menyebabkan gangguan fisik, gangguan kesehatan seksual dan reproduksi, serta gangguan mental. Beberapa di antaranya adalah infeksi saluran kencing, kista, kemandulan dan komplikasi dalam melahirkan (BBC, 2013).
Sobat Remaja bisa bayangkan, sejak lahir anak perempuan enggak pernah diberi pemahaman yang logis soal sunat perempuan, juga tidak pernah ditanyakan persetujuannya, tiba-tiba langsung saja disunat. Padahal itu adalah hak otonomi atas tubuh. Logikanya sederhana, tubuh kita adalah hak kita. Segala yang terjadi atas tubuh kita haruslah mendapat persetujuan dari kita sebagai pemilik tubuh. Masalahnya, FGM di Indonesia umumnya terjadi saat masih bayi, belum bisa ngomong juga kalik. Nah, hak ini dirampas gitu aja, hingga dampaknya kita pula yang harus merasakan.

 

Hal ini turut dirasakan oleh Ashyla Lubna (17) remaja yang tinggal di Depok, Jawa Barat. “Jujur aku tidak tahu terlalu banyak tentang sunat perempuan selain dari fakta bahwa dulu pas lahir langsung disunat, kata Bunda sih kayak gitu,” tuturnya. Padahal Ashyla tidak setuju dengan praktik ini. Apalagi jika tidak dilakukan dengan alat yang memadai (yang tidak sesuai protokol) dan tidak menggunakan anestesi.
Menurutnya, praktik sunat perempuan membahayakan baik secara mental dan fisik perempuan. “Secara mental bagi perempuan yang disunat pasti akan menjadi pengalaman yang sangat traumatis, dan rasa tertekannya itu karena mungkin merasa ‘enggak bisa apa-apa’ dan lain-lain. Belum lagi rasa sakit yang harus dirasakan karena area genital adalah area yang sangat sensitif,” aku Ashyla.

Sementara itu, hal yang Ashyla juga dirasakan Salsa (17) remaja di Rembang, Jawa Tengah. “Aku mengalami sunat perempuan ketika masih Taman Kanak-Kanak (TK). Aku masih ingat waktu itu diajak ke dukun bayi. Waktu itu simbolis, seperti dioles bagian alat kelamin sedikit, tidak sampai melukai. Namun ada juga yang disunat waktu masih bayi, seminggu setelah lahir,” tutur Salsa.
Salsa sempat mempertanyakan, apakah praktik simbolik seperti itu termasuk sunat perempuan atau tidak.

 

Dahulu Salsa belum mengetahui tentang sunat perempuan, yang ia ketahui sunat itu pemotongan alat kelamin. Namun ketika sudah ada program Yes I Do oleh PKBI Rembang di desanya – salah satunya pencegahan sunat perempuan – ia jadi lebih memahami sunat perempuan.
“Aku tidak setuju dengan sunat perempuan, karena pemotongan dan pengambilan itu termasuk sebuah kekerasan atau tindak kejahatan. Setelah berjalannya Program Yes I Do, saat ini sudah tidak ada lagi praktik sunat perempuan di Rembang. Lagi-lagi perempuan yang dirugikan, ternyata itu mitos. Saat ini tidak ada lagi praktik simbolis seperti itu,” tutur Salsa.

 

Mitos-Mitos

Sobat Remaja pernahkah mendapatkan mitos-mitos soal sunat perempuan? Nah mitos sunat perempuan ternyata juga menjalar ke Generasi Z seperti teman kita Salsa dan Ashyla. Menurut Salsa, ia mendengar mitos bahwa kalau perempuan belum disunat berarti belum bisa punya anak. Selain itu, ada juga mitos bahwa belum disunat berarti belum bisa menstruasi.
“Mitos seperti itu harus dihilangkan, dengan memberikan pengetahuan dan fakta kepada remaja (terkait pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi – red),” ujar Salsa.

Ashyla juga pernah mendapatkan mitos terkait sunat perempuan. Salah satu yang ia dengar yaitu sunat perempuan bisa mencegah perempuan berperilaku genit. “Menurutku genit atau enggak ya pasti enggak ada hubungannya sama sekali dengan disunat. Lagi pula enggak ada salahnya dengan genit. Itu sih pandangan masyarakat aja yang masih bias tentang perempuan,” tuturnya.

 

Melanggar Hak Dasar

Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Indra Gunawan dalam Webinar ‘Pencegahan FGM/C atau Perlukaan/Pemotongan Genitalia Perempuan (P2GP)’ yang diselenggarakan KPPPA melalui daring (14/9) mengatakan bahwa perempuan tidak membutuhkan sunat atau khitan, seperti laki-laki. Selain melanggar hak dasar perempuan, dari kajian medis maupun agama praktik FGM tidak memiliki manfaat justru membahayakan perempuan.

“P2GP atau sunat perempuan merupakan praktik berbahaya yang secara eksklusif ditujukan kepada perempuan dan anak perempuan yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan hingga memicu depresi dan trauma. P2GP melanggar hak dasar perempuan untuk memperoleh kesehatan, integritas tubuh, serta bebas dari diskriminasi dan perlakuan kejam atau upaya merendahkan martabat,” ujar Indra Gunawan.
Sejak tujuh tahun lalu Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sudah mengatakan bahwa sunat yang dilakukan terhadap perempuan dan anak perempuan walaupun dengan simbolis dengan menyayat atau mengoles kunyit tetaplah merupakan tindak kekerasan (BBC, 2013). Problematika sunat perempuan yang dialami oleh anak perempuan dan perempuan lebih rumit daripada hanya sekadar membedakan metodenya saja; sunat atau mutilasi alat kelamin perempuan. Sangat jelas bahwa apapun bentuknya, sunat perempuan merupakan praktik yang merendahkan martabat dan membahayakan perempuan dan anak perempuan.
Penghapusan segala bentuk praktik berbahaya seperti perkawinan anak dan sunat perempuan masuk dalam salah satu target agenda tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) hingga tahun 2030. Semakin jelas bahwa, masalah sunat perempuan adalah permasalahan kita bersama. Oleh karena itu ajakan dari Solar, Ashyla, Salsa dan seluruh individu, lembaga serta organisasi untuk menghentikan praktik sunat perempuan harus kita dukung dan bergerak bersama. Kuy!

 

Jika teman-teman remaja ingin curhat atau berkonsultasi, bisa langsung ngobrol dengan konselor kami. Segera kunjungi http://sobatask.net/servis/

Penulis : Ryan A. Syakur

Editor : Restri & Dewi

 

Glosarium

International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation : Hari yang diinisiasi PBB untuk mendorong kepedulian masyarakat dunia dalam penghapusan pemotongan atau pelukaan kelamin perempuan (sunat perempuan). Hari tersebut diperkenalkan pada 2003.

Sustainable Development Goals (SDGs) : Suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030.

Yes I Do : Program yang diinisiasi oleh Rutgers WPF Indonesia bersama Plan International Indonesia; sebuah aliansi bersama yang berfokus pada pencegahan perkawinan anak, kehamilan remaja, dan praktik berbahaya bagi kesehatan reproduksi anak perempuan di Kabupaten Sukabumi, Rembang, dan Lombok Barat. Program ini berjalan dari tahun 2016 hingga tahun 2020.

 

 

Referensi

All K Pop. 2020. Mamamoo’s Solar Raises Awareness About Female Genital Mutilation. Diakses melalui: https://www.allkpop.com/article/2020/02/mamamoos-solar-raises-awareness-about-female-genital-mutilation

BBC. 2013. Komnas Kecam Surat Perempuan. Diakses melalui: http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/02/130204_komnassunat

BBC. 2013. WHO Peringatkan Risiko Mandul Akibat Sunat Perempuan. Diakses melalui: http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/02/130205_whosunatperempuan

KPPPA. 2020. Praktik Berbahaya Perempuan Tidak Membutuhkan Sunat. Diakses melalui:

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2865/praktik-berbahaya-perempuan-tidak-membutuhkan-sunat

Legal Era Indonesia. 2017. Khitan Wanita Bentuk Pelanggaran HAM? Diakses melalui: https://legaleraindonesia.com/khitan-wanita-bentuk-pelanggaran-ham/

Perempuan Bergerak Edisi III. 2013. Khitan Perempuan: Praktik Purba yang Harus Dihapuskan. Jakarta.

PKBI. 2018. Sunat Perempuan (Masih) Membelenggu Perempuan, Mana Komitmen Pemerintah? Diakses melalui: https://pkbi.or.id/sunat-perempuan-masih-membelenggu-perempuan-mana-komitmen-pemerintah/

The Conversation. 2017. Sunat perempuan umum ditawarkan melalui klinik kelahiran di Indonesia. Diakses melalui: https://theconversation.com/sunat-perempuan-umum-ditawarkan-melalui-klinik-kelahiran-di-indonesia-85282

VOA Indonesia. 2020. Sunat Perempuan: Praktik Purba yang Dilestarikan Tanpa Alasan. Diakses melalui: https://www.voaindonesia.com/a/sunat-perempuan-praktik-purba-yang-dilestarikan-tanpa-alasan/5276429.html

 

 

 

 

 

Leave A Comment